Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa
kerjasama antar daerah telah menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi di zaman
globalisasi yang menuntut adanya keterbukaan ini. Pasalnya, semakin hari
kebutuhan manusia semakin bertambah dan beraneka rupa.
Kalau dulu manusia dapat ke mana-mana dengan
berjalan kaki, Apakah sekarang Anda dapat berpisah dari motor atau mobil Anda?
Jika dulu manusia dapat bersabar untuk menunggu seseorang untuk diajak bicara,
Apakah kini Anda dapat meninggalkan hand phone Anda barang satu hari saja?
Bukan hanya motor, mobil dan hand phone,
masih ada banyak produk lain yang didapatkan dari luar daerah, bahkan dari luar
negeri. Hal ini karena satu daerah selalu memiliki sumber daya yang terbatas,
sehingga diperlukanlah sumber daya dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan
manusia di dalamnya. Oleh karena itu, untuk menjadi pengusaha yang sukses,
cepat atau lambat Anda pasti akan melakukan kerja sama antar daerah.
Akan tetapi, melakukan kerjasama antar daerah
itu gampang gampang susah. Bagaimana tidak, budaya dan bahasa antara satu
daerah dengan daerah lain belum tentu sama, bahkan bisa jadi sangat berbeda.
Jika tidak memahami kebudayaan daerah lain, bisa saja kerja sama dengan mitra
Anda di daerah lain tersebut menjadi lelucon badut, karena sama-sama ndak
nyambungnya.
Coba lihatlah para pebisnis Amerika Serikat,
mereka cenderung impersonal dalam berkerja sama. Mereka selalu melihat segala
sesuatunya dari kaca mata ekonomi, sehingga unsur kepercayaan kepada mitra
kerja adalah nomer wakhid bagi mereka.